Selasa, 11 November 2014


Nama:Bonifasius
Kelas:B
Filsafat administrasi merupakan hasil pemikiran penalaran manusia yang disusun berdasarkan dengan rasionalitas dan sistematika yang mengungkapkan kejelasan tentang objek formal, yaitu pemikiran untuk menciptakan suatu keteraturan dari berbagai aksi dan reaksi yang dilakoni oleh manusia dan objek material, yaitu manusia yang melakukan aktivitas administrasi dalam bentuk kerjasama menuju terwujudnya tujuan tertentu.    
Leadership adalah pengaruh, khususnya pengarus dari prilaku dan pikiran orang lain.
Bagi organisastoris, leadership secara khusus berarti memengaruhi kinerja mereka.
Leadership dapat dipahami dalam banyak cara.
Di antaranya adalah:
a.       Seorang yang kuat;
b.      Pembuat transaksi;
c.       Pembuat inspirasi.
Masing-masing tipe leadership memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik.
Seorang pemimpin sejati boleh menggunakan semua bentuk ini dalam waktu yang berbeda.

 Jadi hubungan filsafat administrasi dengan kepemimpinan adalah ketika seorang pemimpin bergabung dengan sebuah organisasi seorang pemimpin harus dapat menciptakan sebuah keteraturan dari berbagai aksi dan reaksi oleh manusia dan objek material,sehingga tercipta kerjasama yang mutlak yang kemudian menciptakan suatu tujuan  yang ingin dicapai.
Jika dikaitkan dengan teori X,Y dan Z yang memiliki karakter yang berbeda:
Teori X:
“Teori X”
Di dalam suatu organisasi para pekerja pada umumnya berusaha bekerja sedikit mungkin, mereka tidak mempunyai ambisi untuk maju, tidak memiliki gairah untuk menemukan cara kerja yang lebih baik, mereka pada umumnya kurang pandai, bekerja secara pasif, senang menghasut, senang menipu diri sendiri, para pekerja melakukan pekerjaan dengan mengutamakan imbalan materi, bekerja hanya berdasarkan perintah, tidak pernah dapat mengemukakan gagasan baru, sering tidak masuk kerja dengan berbagai alas an yang dicari-cari, senang memberikan laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Maka pengarahan yang seharusnya dilakukan adalah bersifat keras, hukuman banyak dilakukan terhadap pelanggaran, pengontrolan harus dilakukan secara ketat, dilakukan cara memimpin yang otoriter, sentralistis, tindakan tegas.
Hanya dengan jalan ini organisasi dapat berjalan kearah pencapaian tujuan walaupun dengan susah payah.






Teori Y
Di dalam organisasi para pekerja pada umumnya senang bekerja, mereka merasakan kerja sebagai hobi, bekerja dengan penuh keaktifan, rasa tanggung jawab yang besar, rajin disiplin, penuh rasa pengabdian, ada gairah untuk maju, selalu berusaha menemukan cara kerja yang lebih baik, banyak gagasan baru dianjukan, para pekerja lebih senang mengarahkan diri sendiri, mengontrol diri sendiri, sehingga pengarahan yang dilakukan lebih bersifat mengikuti, pengontrolan longgar, cara memimpin demokratis, banyak pelimpahan wewenang, banyak mengikut sertakan bawahan dalam mengambil keputusan.

Teori Z
Pada suatu saat seorang pemimpin memang orang harus menggunakan cara halus, hanya sedikit mengontrol, memerintah dengan sikap permintaan, saran ataupun sukarela, lebih bersifat menanyakan dari pada menegur, pada lain kesempatan seorang pemimpin harus berani bertindak tegas, melakukan control secara ketat, memberi  perintah tegas, menyalahkan, dan bahkan bila terpaksa harus berani menghukum sesuai dengan kesalahan yang dibuat oleh bawahannya.
Baik secara halus maupun secara tegas kedua-duanya dilandasi suatu harapan bahwa tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik.

Kesimpulan
dapat Kita ketahuai filsafat administrasi mempelajari tentang kepemimpinan jadi jika di hubungkan dengan teori X, Y dan Z, dapat di simpulkan bahwa pemimmpin yang baik dan bisa di teladani jika seorang pemimpin itu memiliki karakter di teori  Y  ,seperti yang di ketahui teori Y menjelaskan sifat, dan karakteristik seseorang yg baik .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar