Nama:Bonifasius
Kelas:B
Filsafat administrasi
merupakan hasil pemikiran penalaran manusia yang disusun berdasarkan dengan
rasionalitas dan sistematika yang mengungkapkan kejelasan tentang objek formal,
yaitu pemikiran untuk menciptakan suatu keteraturan dari berbagai aksi dan
reaksi yang dilakoni oleh manusia dan objek material, yaitu manusia yang
melakukan aktivitas administrasi dalam bentuk kerjasama menuju terwujudnya
tujuan tertentu.
Leadership
adalah pengaruh, khususnya pengarus dari prilaku dan pikiran orang lain.
Bagi
organisastoris, leadership secara khusus berarti memengaruhi kinerja mereka.
Leadership
dapat dipahami dalam banyak cara.
Di antaranya
adalah:
a.
Seorang yang
kuat;
b. Pembuat transaksi;
c.
Pembuat
inspirasi.
Masing-masing
tipe leadership memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik.
Seorang
pemimpin sejati boleh menggunakan semua bentuk ini dalam waktu yang berbeda.
Jadi hubungan
filsafat administrasi dengan kepemimpinan adalah ketika seorang pemimpin
bergabung dengan sebuah organisasi seorang pemimpin harus dapat menciptakan
sebuah keteraturan dari berbagai aksi dan reaksi oleh manusia dan objek
material,sehingga tercipta kerjasama yang mutlak yang kemudian menciptakan
suatu tujuan yang ingin dicapai.
Jika dikaitkan dengan teori X,Y dan Z yang memiliki karakter
yang berbeda:
Teori X:
“Teori X”
Di dalam
suatu organisasi para pekerja pada umumnya berusaha bekerja sedikit mungkin,
mereka tidak mempunyai ambisi untuk maju, tidak memiliki gairah untuk menemukan
cara kerja yang lebih baik, mereka pada umumnya kurang pandai, bekerja secara
pasif, senang menghasut, senang menipu diri sendiri, para pekerja melakukan
pekerjaan dengan mengutamakan imbalan materi, bekerja hanya berdasarkan
perintah, tidak pernah dapat mengemukakan gagasan baru, sering tidak masuk
kerja dengan berbagai alas an yang dicari-cari, senang memberikan laporan yang
tidak sesuai dengan kenyataan.
Maka
pengarahan yang seharusnya dilakukan adalah bersifat keras, hukuman banyak
dilakukan terhadap pelanggaran, pengontrolan harus dilakukan secara ketat,
dilakukan cara memimpin yang otoriter, sentralistis, tindakan tegas.
Hanya dengan
jalan ini organisasi dapat berjalan kearah pencapaian tujuan walaupun dengan
susah payah.
Teori Y
Di dalam organisasi
para pekerja pada umumnya senang bekerja, mereka merasakan kerja sebagai hobi,
bekerja dengan penuh keaktifan, rasa tanggung jawab yang besar, rajin disiplin,
penuh rasa pengabdian, ada gairah untuk maju, selalu berusaha menemukan cara
kerja yang lebih baik, banyak gagasan baru dianjukan, para pekerja lebih senang
mengarahkan diri sendiri, mengontrol diri sendiri, sehingga pengarahan yang
dilakukan lebih bersifat mengikuti, pengontrolan longgar, cara memimpin
demokratis, banyak pelimpahan wewenang, banyak mengikut sertakan bawahan dalam
mengambil keputusan.
Teori Z
Pada suatu
saat seorang pemimpin memang orang harus menggunakan cara halus, hanya sedikit
mengontrol, memerintah dengan sikap permintaan, saran ataupun sukarela, lebih
bersifat menanyakan dari pada menegur, pada lain kesempatan seorang pemimpin
harus berani bertindak tegas, melakukan control secara ketat, memberi perintah tegas, menyalahkan, dan bahkan bila
terpaksa harus berani menghukum sesuai dengan kesalahan yang dibuat oleh bawahannya.
Baik secara
halus maupun secara tegas kedua-duanya dilandasi suatu harapan bahwa tujuan
organisasi dapat tercapai dengan baik.
Kesimpulan
dapat Kita ketahuai filsafat administrasi mempelajari
tentang kepemimpinan jadi jika di hubungkan dengan teori X, Y dan Z, dapat di
simpulkan bahwa pemimmpin yang baik dan bisa di teladani jika seorang pemimpin
itu memiliki karakter di teori Y ,seperti yang di ketahui teori Y menjelaskan
sifat, dan karakteristik seseorang yg baik .